Dependency

Baiklah, emosi saya sedang berantakan sekarang. Mungkin menulis ini salah satu cara biar bisa tenang lagi wkwk. Oke saya mulai ya? Begini. Saya berprinsip tidak terbiasa untuk bergantung sama orang lain. Kenapa? Orang bilang saya tipe orang yang mandiri. Apa-apa dikerjain sendiri, punya masalah disimpan sendiri. Kelewat mandiri, suka memendam perasaan, kata seorang teman SMA saat saya minta dia menuliskan kelemahan saya. Masuk universitas saya mencoba untuk pelan-pelan membagi masalah dengan orang lain.

Tahun lalu, saya sadar saya melanggar prinsip saya untuk tidak bergantung sama orang. Awalnya saya tidak berniat begitu, serius. Sebaliknya, saya yang berniat membuat orang itu mengandalkan saya. Biasanya sih, saya tidak akan merasa ada hubungan apa-apa. Toh cuma cerita, dan saya cuma perlu mendengarkan. Ternyata quote di bawah benar. Lama-lama saya menganggap orang itu seperti saudara sendiri. Ada saat saya butuh dia, dan sebaliknya.

Sebenarnya dengan anggapan bahwa dia saudara saya, itu membuat saya sadar akan banyak hal. Pertama, saya yakin suatu saat kata-katanya akan lebih menyakitkan dibanding kata-kata orang lain. Kedua, saya sadar jika suatu saat saya kehilangan orang ini, sedih yang saya rasakan mungkin akan sama dengan kehilangan orang tua sendiri. Mungkin lebay, tapi begini kenyataannya. Ketiga, saya harus siap jika suatu saat saya harus membuang rasa gengsi untuk menyelesaikan masalah (yang melibatkan orang itu) yang ke depannya pasti muncul. Jujur yang ini agak sulit. Saya bisa dibilang sangat keras kepala, dan menganggap harga diri ada di atas segalanya.

Sekarang saya sedang merasakan kondisi ketiga. Wow, dan bodohnya saya yang memulai masalah itu. Pada mulanya saya rasa saya akan baik-baik saja. Orang datang dan pergi kan? Seperti kata Oyo, “friend is only an attribute with an END”. Saya mencoba untuk menghapus ketergantungan saya akan orang ini. Tidak mudah, sesuatu yang sudah dilakukan lebih dari 14 hari memang akan jadi kebiasaan. Kebiasaan untuk ingin say “hai” lengkap dengan emote unyu lewat chat fb, atau makan soto di kantin sampai dicengin tukang soto, atau dengan santai bilang “eh gw mau cerita”, “bangunin gw”. Hal yang tidak biasa dan tidak bisa saya lakukan sama orang lain.

Yah yasudah semuanya sudah lewat, menyesal juga sudah tidak ada gunanya. Sekarang saya berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama ke depannya. Semoga saya bisa lebih gampang untuk mengucap kata maaf, makasih lebih dulu dibanding orang lain yang memulai. Sebelum ada orang yang hilang sambil membawa sebagian diri saya 🙂

“For everyone you create to be dependent on you, you are equally dependent on them. Neither relationship is healthy.”
― Alan Cohen

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s